Makanan Halal Menjadi Pilihan Utama di Eropa



Ditengah-tengah permintaan dari kalangan umat Islam dan non-Islam yang sama terhadap makanan halal, telah membuatnya menjadi pilihan utama di Eropa dengan lebih banyak jaringan supermarket yang kini menawarkan makanan yang berstandar syari'ah.

"Kami sedang memulai melihat makanan seperti ini tidak hanya untuk toko-toko tertentu tetapi juga mulai memberikannya pada penjual retail yang besar," ujar Frits Van Dijk, wakil presiden eksekutif Nestle, salah satu perusahaan makanan terbesar dunia kepada reuters.

Dia menambahkan bahwa Nestle telah mulai menjual daging dan makanan beku halal di Prancis.

Menurut Van Dijk bahwa supermarket terkenal Inggris Tesco dan Prancis Carrefour juga telah menawarkan produk makanan halal dalam outlet mereka.

Susu bubuk, peralatan masak, bumbu dapur dan saus adalah diantara produk halal yang sangat populer di Eropa saat ini.

Van Dijk yang tengah menghadiri Forum Halal Dunia di Den Hague 17-18 November berharap bahwa bisnis produk makanan halal akan tumbuh 20 hingga 25 % dalam satu dekade ke depan.

Total nilai pasar makanan halal di Eropa saat ini mencapai 66 miliar dollar, termasuk pasar ikan, makanan segar, dan makanan kemasan, sementara di pasar global nilainya mencapai 634 miliar dollar.

Lebih lanjut dengan populasi umat Islam mencapai 25% penduduk dunia, merupakan pasar yang sangat besar bagi perusahaan-perusahaan kelas dunia untuk menawarkan produknya yang berstandar halal.

[muslimdaily.net/iol]

Leave a comment

Pewarna Alami dari Buah Manggis

manggis-1

Manggis yang dalam bahasa Latinnya dikenal dengan nama Garcinia mangostana merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Thailand, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan tentu saja Indonesia. Kemudian dari Asia Tenggara, tanaman ini menyebar ke Amerika Tengah dan daerah tropis lainnya seperti Sri Lanka, Malagasi, Karibia, Hawai, dan Australia Utara.

Di antara semua negara yang tanahnya ditumbuhi pohon manggis, Indonesia termasuk sebagai salah satu produsen terbesar di dunia setelah Thailand. Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian RI mencatat, produksi manggis selama tahun 2005 mencapai 62.711 ton dari areal seluas 10.000 hektare. Sementara di tahun yang sama, produksi manggis Thailand sudah mencapai 162.788 ton dari luas areal yang sama.

Saat ini, ekspor manggis Indonesia mencapai 34,4 persen dari keseluruhan total produksinya. Adapun beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor buah manggis di antaranya Hong Kong, Cina, Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Belanda, Perancis, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Masing-masing negara tersebut menuntut tampilan manggis ekspor yang berbeda-beda. Jepang menginginkan buah manggis yang diekspor ke negara mereka telah dikupas setengahnya, agar tampilan dalam buahnya bisa terlihat.

Namun, yang lebih banyak ialah keinginan negara yang dikirimi buah manggis dalam bentuk utuh, lengkap dengan cangkangnya. Misalnya saja RRC, Taiwan, Singapura, dan Amerika Serikat yang permintaan terhadap buah manggisnya sangat tinggi untuk dikonsumsi sebagai buah segar sekaligus mengolahnya untuk kepentingan industri.

Dengan mengembangkan teknologi, mereka telah dapat memanfaatkan ekstrak cangkang buah manggis sebagai bahan baku kosmetik dan vitamin. Nilai ekonomis hasil olahan ini justru jauh lebih tinggi daripada nilai ekonomis buah segarnya. Hal ini yang menunjukkan pemanfaatan manggis Indonesia belumlah optimal.

Namun, upaya tersebut kini sudah mulai dirintis lewat sejumlah penelitian yang bertujuan meningkatkan nilai ekonomis manggis melalui pengolahan cangkangnya. Untuk mendukung langkah tersebut, Departemen Pertanian kini mulai mengarahkan ekspor manggis yang berbentuk buah kupas. Jadi, hanya buahnya yang diekspor, sedangkan cangkangnya diolah di dalam negeri.

Salah satu manfaat yang dapat dipetik dari cangkang manggis ialah ekstraknya yang dapat dijadikan bahan pewarna makanan. Manfaat tersebut terkuak setelah sejumlah peneliti dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad melakukan penelitian.

Tim yang terdiri atas Ir. Tati Sukarti, M.S., Dr. Ir. Roni Kastaman, M.T., dan Dwi Purnomo, S. T. P., M. T., itu menyampaikan hasil penelitian mereka di depan peserta pelatihan “Roadmap dan Teknologi Pengembangan Agroindustri Buah Manggis dalam Upaya Akselerasi Ekspor ” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur, Bandung, beberapa waktu lalu.

Dalam paparannya, tim yang diwakili oleh Ir. Tati Sukarti, M. S. menyebutkan, kulit buah manggis mengandung dua senyawa alkaloid. Kulit kayu dan kulit buah serta lateks keringnya mengandung sejumlah pigmen yang berasal dari dua metabolit, yaitu mangostin dan ß-mangostin. Jika semua kandungan yang terdapat pada buah manggis tersebut diekstraksi, maka akan didapati bahan pewarna alami berupa antosianin yang menghasilkan warna merah, ungu, dan biru.

Secara bertahap Tati menjelaskan proses pengekstrasian kulit buah manggis hingga didapati bahan pewarna makanan. Pertama-tama, dilakukan pemilihan terhadap kulit buah manggis yang akan diolah. Kulit-kulit buah manggis tersebut kemudian dicuci, di-blanching, lalu dihancurkan.

“Setelah itu, kulit manggis yang sudah dihancurkan dapat menjalani dua proses yang berbeda. Ada metode kering dan ada yang basah,” kata Tati. Melalui metode basah, kulit buah manggis yang sudah hancur selanjutnya diekstraksi untuk selanjutnya disaring hingga menghasilkan filtrat. Kemudian filtrat ini mengalami proses lanjutan hingga dihasilkan pigmen yang selanjutnya disaring, diuapkan, dikeringkan, dan akhirnya terbentuk pigmen berwarna merah.

Metode pengolahan dengan cara kering menuntut proses yang lebih panjang. Setelah hancur, kulit buah manggis kemudian masih harus dikeringkan dalam temperatur bersuhu 40°C. Setelah kering, kulit manggis tersebut lalu digiling, lalu diayak hingga menghasilkan tepung kulit buah manggis. Tepung tersebut selanjutnya ditambahkan etanol berkonsentrasi 95% hingga akhirnya menghasilkan filtrat setelah disaring. Filtrat ini yang kemudian diuapkan hingga akhirnya menghasilkan pigmen warna.

“Pada dasarnya hasil akhirnya sama saja. Kalaupun ada perbedaan pada jumlah rendemen yang dihasilkan, perbedaannya tipis saja,” kata Tati. Lebih lanjut ia menjelaskan, biaya yang dibutuhkan untuk mengekstraksi kulit buah manggis hingga dihasilkan pigmen warna ini tidaklah besar. Bahan baku yang dibutuhkan hanya berupa air dan pelarut yang sesuai.

Mengingat besarnya nilai ekonomis yang bisa didapatkan dengan mengolah kulit buah manggis lebih lanjut ini, dengan modal yang tidak terlalu besar, bisa dibilang usaha ini cukup prospektif. Meskipun masyarakat yang menggunakan bahan pewarna berbahan dasar kulit manggis ini belum banyak, karena sosialisasi yang masih minim, Tati mengatakan akan lebih memasyarakatkan lagi penggunaan jenis pewarna ini.

Ia meyakinkan bahan pewarna yang berbahan dasar kulit manggis ini memiliki keunggulan tidak beracun, seperti halnya yang biasa ditimbulkan bahan pewarna sintetis. Tidak akan pula ada efek samping ataupun akumulasi zat-zat yang tidak dapat terabsorbsi tubuh. Lebih jelasnya, ia meyakinkan, bahan pewarna jenis ini aman untuk dikonsumsi.

Supaya dapat diproduksi massal, Tati dan timnya kini tengah gencar menawarkan hasil penelitiannya ini ke sejumlah perusahaan. Selain itu, ia juga mengaku akan segera mematenkan hasil temuannya ini supaya tidak diklaim pihak lain. Seperti halnya manggis yang sempat diklaim buah asli Malaysia. (Riesty Yusnilaningsih)***http://agroindustry.wordpress.com

Leave a comment

Memperjuangkan Indonesia Sebagai Pusat Produk Halal Internasional

images

Perkembangan produk halal di dunia menjadi suatu trend yang berkembang pesat. Diantara negara-negara yang maju agroindustri halal-nya diantaranya adalah negara-negara Asean. Seperti ditunjukan oleh Malaysia yang berkomitmen untuk menjadi produsen produk halal terbesar di Asia, diikuti oleh Brunei Darussalam, serta Thailand dan Filipina yang melakukan langkah serupa meskipun muslim adalah minoritas, namun pemerintah setempat mendukung Office of Muslim Affair (OMA) untuk memberi sertifikasi kepada produk-produk ekspor asal negara-negara tsb.

Negara-negara diatas kini mengedepankan produk halalnya sebagai komoditas penting, pertanyaannya adalah bagaimana dengan Indonesia? Ironis bagi Indonesia yang memiliki potensi sumber bahan baku yang sangat besar, kemampuan produksi dan besarnya pasar dengan populasi muslim terbesar di dunia, rupanya hanya dijadikan sebagai target pasar produk halal terbesar. Memperhatikan gejala yang terjadi, maka timbul pertanyaan yang menarik menyikapi kecenderungan ini, yakni apakah hal ini disebabkan karena besarnya populasi Muslim Indonesia sebagai konsumen atau karena memang pasar global halal besar nilainya.

Dilihat dari nilai bisnis produk halal dunia, dalam Patton (2006) disebutkan bahwa bisnis produk halal mencapai antara USD 150–500 Milyar, perkembangan produk halal secara internasional ini seyogyanya disikapi dengan menyiapkan strategi dan kebijakan pengembangan industri halal agar Indonesia dapat sepenuhnya menguasai potensi yang ada menjadi suatu kekuatan yang memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi nasional.

Urgensi atas permasalahan ini semakin mengemuka ketika negara-negara ASEAN lainya telah melangkah jauh lebih maju untuk mengembangkan agroindustri halal-nya. Bercermin pada kemampuan Malaysia dan Brunei Darusalaam yang pada jauh hari telah memprediksi bahwa nilai pasar produk halal global segera akan mencapai USD 2.1 Trilyun dengan pertumbuhan tahunan USD 500 Milyar (Johnston, 2007), dan menyikapinya dengan berbagai kebijakan untuk mengembangkan industri halalnya sebagai pelopor industri halal di dunia.

Produk halal ternyata juga mampu menarik minat negara-negara maju yang mayoritasnya penduduknya non muslim untuk memberikan labelisasi halal pada produknya, hal ini karena halal dinilai sebagai patok duga tertinggi dalam hal standar kualitas sehingga dapat menyerap produk yang sudah mendapatkan label halal. Pasar Perancis misalnya, pertumbuhan tahunan bisnis pangan halal-nya meningkat 15% (Hipermarket) dan 9% (Supermarket), dan menilik harga produk unggas halal lebih tinggi 30–50%, walaupun dengan biaya sertifikasi halal 6 % dari biaya produksi normal.

Berkembangannya agroindustri halal secara internasional ditandai dengan berkembangannya perusahaan makanan multinasional yang menjual produk halal dengan merk ternama yang maju pesat karena menggunakan ikon halal. Contoh lain yang dapat dijadikan bukti majunya produk halal dunia seperti usaha penjualan Pizza halal yang meningkat 40 % dari total penjualan pizza, serta contoh lainnya seperti penjualan KFC, Euro Fried Chicken dan Halal Fried Chicken tumbuh dan berkembang dengan cepat di Eropa.

Menganalisa kemampuan produksi, besarnya pasar dan rencana jangka panjang dari negara-negara yang memiliki grand strategy dalam mengembangkan negaranya menjadi pusat pemasaran produk halal dunia, maka menjadi menjadi tantangan bagi pelaku produk halal Indonesia, yang selama ini memasok berbagai produk makanan ke pasar internasional, terlebih dengan rencana Malaysia pada tahun 2010 yang memposisikan diri menjadi satu-satunya pintu bagi seluruh produk makanan halal yang hendak dipasarkan oleh negara-negara lain dapat mengancam keberadaan produk halal Indonesia.

Jika rencana diatas terlaksana, maka dampak negatif akan dialami Indonesia, khususnya bagi kalangan industri makanan. Setiap produk Indonesia yang hendak dipasarkan ke luar negeri, utamanya ke negara-negara Islam, harus dilegalisasi di Malaysia, dan setelah label halal dikeluarkan, baru sudah bisa dipasarkan secara internasional. Selama ini, indikasi Malaysia membatasi ruang gerak Industri halal khususnya makanan halal nasional sudah terasa. Misalnya, dengan menciptakan prosedur yang sulit bagi perdagangan Indonesia untuk masuk ke Malaysia serta membatasi produk yang beredar. Malaysia juga selalu berusaha mendapatkan berbagai metode pengembangan produk dari pelaku usaha pangan Indonesia untuk diduplikasi, walaupun pola tersebut tidak menyimpang dari ketentuan bisnis, karena modusnya adalah kerja sama.

Hal ini menjadi latar belakang perlunya untuk segera melakukan tindakan antisipasif dan strategis disertai perubahan pola pikir untuk mendorong potensi bisnis dan perdagangan produk halal dengan memberdayakan segenap aktor yang terlibat untuk merumuskan kebijakan pengembangan agroindustri halal untuk menjadikan Indonesia bukan hanya sekedar pasar terbesar, namun juga pelaku utama produk halal di dunia.


Dwi Purnomo, Dosen dan Peneliti

Fakultas Teknologi Industri Pertanian UNPAD

dwighy@yahoo.com

Leave a comment

Dimulai Dari Eropa, Makanan Halal Taklukkan Pasar Dunia

HAGUE (SuaraMedia News) – Di tengah meningkatnya permintaan dari kaum Muslim dan non-Muslim, makanan halal segera menjadi arus utama di Eropa dengan lebih banyak jaringan supermarket yang menawarkan makanan sesuai aturan syariah ini.

“Kami mulai melihat bahwa produk-produk ini tidak hanya berada di toko-toko khusus tapi juga mulai masuk ke retailer modern mainstream,” Frits Van Dijk, Wakil Presiden Eksekutif Nestle, grup makanan terbesar di dunia.

Ia menambahkan bahwa Nestle baru-baru ini mulai menjual produk-produk halal makanan beku dan berbahan dasar daging di Perancis.

Van Dijk mengatakan bahwa sejumlah jaringan terkenal seperti Tesco Inggris dan Carrefour Perancis juga menawarkan serangkaian produk halal di outletnya.

Susu bubuk, bumbu, dan saus-saus adalah beberapa di antara produk-produk halal yang paling populer di Eropa saat ini.

Van Dijk, yang menghadiri Forum Halal Dunia di The Hague pada tanggal 17-18 November, memperkirakan bisnis makanan halal akan tumbuh 20-25% di Eropa dalam satu dekade mendatang.

Secara keseluruhan, pasar makanan halal Eropa Saat ini bernilai sekitar USD 66 miliar, mencakup daging, makanan segar dan beku, sementara di tingkat global nilainya mencapai USD 634 miliar.

Konsep halal telah secara tradisional diaplikasikan pada makanan. Namun sekarang, benda dan layanan lain pun juga mendapat sertifikasi halal, termasuk minuman, kosmetik, pakaian, farmasi, dan jasa keuangan.

Wakil Presiden Eksekutif Nestle menyebutkan tumbuhnya permintaan akan makanan halal dari Muslim dan non-Muslim.

“Dua puluh persen dari populasi dunia suatu hari nanti akan terdiri dari kaum Muslim dan mereka memiliki ekspektasi serta kebutuhan,” jelasnya.

“Jika mereka ingin merasa yakin bahwa apa yang mereka makan dan minum telah sesuai dengan keyakinan mereka, maka sebuah perusahaan seperti kami harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut.”

Nestle adalah penghasil makanan halal terdepan di dunia, menjual sekitar USD 5.23 miliar makanan halal di tahun 2008, 5% dari pendapatan per tahunnya.

Pasar makanan halal perusahaan itu antara lain Malaysia, Indonesia, Turki, dan negara-negara Timur Tengah.

Perancis, Inggris, dan Jerman kini mulai muncul sebagai pasar halal utama di Eropa.

Nestle berencana untuk mulai menawarkan supermarket di Swiss serangkaian produk halal di awal tahun 2010.

“Kami melihat adanya permintaan yang kuat dari retailer dalam memperluas produk pilihan etnis mereka, dan ini adalah sebuah pilar pertumbuhan yang ingin terus kami jadikan fokus,” ujar Alexander Klein, manajer Nestle.

Sekitar 85 dari 456 pabrik Nestle secara global kini telah bersertifikat halal namun Van Dijk mengatakan bahwa standar interpretasi halal yang berbeda-beda di seluruh dunia adalah tantangan untuk industri ini.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) saat ini sedang mengerjakan satu standar tunggal untuk diaplikasikan ke 57 negara anggotanya, sebuah gerakan yang akan semakin menumbuhkan industri makanan halal. (rin/io) www.suaramedia.com

Leave a comment

Industri Makanan Halal yang Prospektif

Sekitar 1,56 miliar dari 6,6 miliar penduduk dunia adalah Muslim. Angka ini membuktikan betapa industri makanan halal cukup berpotensi dan mempunyai pasar yang besar di seluruh dunia. Jumlah itu tidak termasuk permintaan dari penduduk non-Muslim yang turut berminat mendapatkan makanan yang dikelola pengusaha Muslim. Karena, produknya dijamin berkualitas dan penyajiannya bersih.

Melihat potensi itu, kini Malaysia berusaha menjadi pengekspor makanan halal internasional. Berbagai peringkat, termasuk pembuatan, pabrik, dan pemasaran produk, akan bergandeng tangan memperkuat dan mengembangkan produk makanan halal agar dapat mendunia.

Perdana Menteri, Abdullah Ahmad Badawi, dalam penutupan Forum Ekonomi Dunia (WIEF) di Kuwait, pekan lalu, juga menegaskan negara-negara Islam harus memanfaatkan berbagai sektor. Khususnya, produk makanan dan keuangan halal yang diperkirakan bernilai 2 triliun dolar AS atau RM 6,3 triliun ringgit.

Untuk mencapai misi itu, Malaysia sejak tahun 2004 menggelar Pameran Halal Internasional Malaysia (Mihas) sebagai platform untuk mengumpulkan dan membuka peluang perdagangan antarnegara Islam untuk mendapatkan sumber pasokan dan memperoleh produk halal yang berkualitas dunia.

Program tahunan yang sudah memasuki tahun kelima itu berakhir Ahad (11/5). Pameran yang digelar di Pusat Pameran dan Konvensyen Matrade itu mengkhususkan lima sektor utama, yaitu makanan dan minuman; farmaseutikal dan produk herba; kosmetik dan penjagaan kesehatan; perbankan dan keuangan serta sektor baru, yaitu pemrosesan makanan dan alat pembungkus yang merupakan saluran terbaik untuk mengembangkan industri makanan halal di Malaysia ke pasaran global.

Bertema 'Menyambung Pasaran Halal Global', pameran diikuti 622 stan 494 stan perusahaan lokal dan 128 stan internasional. Pameran ini diharapkan mampu menopang pertumbuhan industri makanan halal lokal. Untuk tahun ini, diperkirakan terjadi penjualan cepat sekitar RM 400 juta (Rp 1,04 triliun). Dibanding tahun 2007 yang hanya RM 209,7 juta (Rp 545,2 miliar), terjadi peningkatan. Tahun ini, stan pameran memang meningkat. Tahun lalu, hanya diikuti 514 stan.

Pameran Mihas 2007 berhasil mewujudkan 3.000 perdagangan senilai RM 600 juta (Rp 1,56 triliun) di kalangan 275 perusahaan internasional dengan 378 perusahaan lokal. Bagaimanapun, pada tahun ini, dilaporkan 5.249 pertemuan sudah diatur antara pembeli luar negara dan pengusaha lokal. Ketua Pegawai Eksekutif Mihas, Mohd Shukri Abdullah, mengatakan, melalui Mihas, pengusaha lokal dan antarbangsa dapat mengadakan jalinan kerja sama untuk mengembangkan produk makanan mereka di seluruh dunia. Dia menilai produk makanan Malaysia mempunyai kekuatan dan keunikan makanannya berkualitas, bersih, dan terutama memiliki label halal yang diakui Departemen Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).

''Banyak produk halal pengusaha Malaysia yang sudah berhasil menembus pasaran luar negeri, seperti ke Inggris, antara lain keripik pisang dan ubi. Saat ini, kekuatan produk halal pengusaha Malaysia berdasarkan saos, kering, siap saji,'' kata Shukri Abdullah. Selain itu, Jakim, Jabatan Standard Malaysia, dan Institut Kelayakan dan Penyelidikan Perindustrian Malaysia (Sirim) mengeluarkan MS Halal 2004 pertama di dunia untuk barang makanan yang siap saji pada tahun 2004. Standar itu diakui dan diterima di seluruh dunia serta tersebar luas di ASEAN, Eropa, AS, Belanda, New Zealand, dan Australia.

Seharusnya agresif Mohd Shukri mengatakan industri makanan halal sangat besar dan pengusaha lokal seharusnya mengembangkannya dengan lebih agresif agar produk Malaysia bisa didapati dengan mudah di seluruh dunia. Karena itu, Mihas mempermudah perjalanan untuk mengekspor produk mereka. Pada Mihas kali ini, 60 persen pesertanya ikut pameran tahun lalu. Bahkan, Cina sebagai peserta internasional mencatat jumlah peserta terbanyak, yaitu 20 orang. Sedangkan, Palestina baru pertama kali. ''Kita yakin Mihas kali ini dapat mencapai tujuan untuk meningkatkan segi penjualan dan pemasaran.''

Tahun lalu, kata Shukri, ada pengusaha yang segan mengetengahkan produk mereka walaupun sebenarnya mampu menembus pasar dunia. ''Sudah menjadi tugas Mihas membantu mempromosikan peluang perdagangan. Contohnya, melalui Mihas, ada seorang pengusaha perusahaan kecil yang menjual keripik, lalu berhasil mendapat pesanan tiga kontener sebulan setelah ada perusahaan internasional yang tertarik dengan rasa dan kualitas makanan itu," katanya.

Shukri berharap pemerintah lebih fokus menyediakan rencana induk yang lebih komprehensif dan jelas agar dapat menopang pertumbuhan industri makanan halal ke tahap yang lebih tinggi, selain dapat memenuhi tujuan negara, yaitu menjadikan Malaysia sebagai pengekspor produk halal internasional.

Saat ini, kata Shukri, masih banyak yang harus dilakukan berbagai pihak, termasuk pengusaha lokal. Misalnya, mendapatkan sertifikat dan logo halal terlebih dulu untuk mempermudah produk mereka memasuki pasaran global. "Kita juga ingin tahu, kenapa sebagian produk makanan Malaysia tidak diperoleh di Makkah atau Jeddah. Padahal, mereka suka makanan halal produksi kita. Apakah disebabkan kita tidak cukup standar untuk kategori tertentu. Jika itu terjadi, pemerintah harus melihatnya dengan serius," katanya.

Yang diharapkan Mihas adalah membuka ruang kepada peserta, khususnya pengusaha internasional untuk mempelajari proses mendapatkan sertifikat halal. Bagi Malaysia, sertifikasi halal memberi kekuatan memperkenalkan dan memasarkan produk halal yang sudah pasti diakui di dunia internasional. njami'ah shukri


Sumber berita - www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=333683&kat_id=411

Leave a comment

Makanan Lokal Indonesia Lebih Halal

http://www.ssffmp.or.id

Saat ini makanan "modern" seperti aneka makanan siap saji (di negeri asalnya disebut junkfood alias makanan "sampah"), mie instan, dan aneka daging olahan dianggap bergengsi. Padahal, jika kita peduli dengan kehalalan sebuah makanan, maka kehalalan makanan-makanan ini tingkat "ketidakjelasan" halalnya sangat tinggi. ''Makanan lokal Indonesia sebetulnya jauh lebih halal, namun posisinya di mata konsumen malah dikatakan sebagai makanan tradisional,'' kata Direktur Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu Dr AH Bambang Setiadji pada Republika.

Sekarang ini, kata dia, semua serba terbalik. Menurutnya, banyak macam makanan halal yang pohonnya tumbuh di Indonesia. ''Tetapi kita malah disuruh makan tepung terigu yang pohonnya tidak tumbuh di Indonesia. Kita datangkan tepung terigu dari negara lain yang kalau ditanyakan halalnya menjadi tanda tanya besar. Dan, sampai sekarang kita masih diam saja,''ungkap Bambang yang juga peneliti di Laboratorium Kimia-Fisika Fakultas MIPA UGM ini.

Untuk itu perlu ada gerakan yang besar untuk pengurangan impor tepung terigu, karena untuk memasukkan tepung terigu juga ada gerakan yang besar. ''Namun gerakan kita agak berat, karena yang mempunyai swalayan bukan orang kita semua,''kata Bambang.

Meskipun demikian gerakan itu harus dimulai dari sekarang misalnya dengan mencontoh Malaysia dan Thailand. Di sana makanan produk lokal seperti sagon dikemas dengan bagus dan diekspor. Contoh lain, jelas Bambang, adalah keripik durian dan produk-produk lokal lainnya kemasannya juga bagus. ''Produk ini hanya buatan industri rumah tangga, tetapi laku diekspor,'' jelasnya.

Produk lokal di Indonesia, lanjut Bambang, jauh lebih bervariasi dan enak rasanya. Tetapi pengemasannya kurang menarik. ''Sehingga walaupun sudah ada yang disajikan di hotel-hotel, tetap saja kurang diminati, karena pengemasannya kurang eksklusif,'' tambahnya.

Selain itu produk halal dari Malaysia dan Thailand diakui secara internasional. Di sana, standar makanan halal ketat sekali. Yang diberi kepercayaan mengakreditasi makanan halal adalah asosiasi Muslim yang kredibel. ''Mereka kontrol sampai di dapur dan peralatannya, tidak sekedar memberikan label halal saja,'' timpal Direktur REPINDO Training Center, Imam Nurhidayat.

Industri makanan di sana kalau ingin mendapatkan akreditasi dan sertifikat halal, kata Imam, harus mendaftar ke asosiasi Muslim. Kemudian oleh asosiasi Muslim, industri makanan tersebut ditinjau, sesuai tidak dengan prosedur halal yang mereka tetapkan. ''Kalau sesuai, baru diakreditasi. Nanti setiap tiga bulan sekali ditinjau lagi. Mereka punya laboratorium lengkap,'' kata Imam.

Ia mengatakan mungkin di antara negara-negara muslim makanan halal yang masuk ke pasar internasional terbanyak dari Thailand. Padahal, Thailand jelas bukan negara dengan mayoritas penduduknya Muslim.

Di sisi lain, sertifikasi dari kedua negara ini juga diakui di lingkup internasional. Ia mengungkapkan temannya dari Indonesia mau mensuplai makanan dari Indonesia ke salah satu di negara Timur Tengah, harus mendapatkan sertifikat halal dari Malaysia. ''Standar halal itu lebih dipercaya kalau dari Malaysia. Sehingga Cina terpaksa membuat pabrik kamuflase di Malaysia untuk mengirim produknya ke Timur Tengah.''

Dari sisi pembiayaan impor, Malaysia juga menguntungkan secara bisnis. ''Kalau Malaysia yang kirim di Timur Tengah hanya dikenai biaya masuk 15 persen, tetapi kalau langsung dari Cina biaya masuknya 40 persen,'' ungkapnya.

Keprihatinan terhadap pengakuan sertifikat halal kita di luar negeri juga diungkapkan Bambang. Halal kita, kata Bambang yang juga sebagai Penasehat REPINDO Training Center, tidak berlaku di negara lain. Hal itu kelihatannya karena akreditasinya kurang. ''Di sini mudah mendapatkan sertifikat halal dan tanpa akreditasi yang ketat seperti di Malaysia dan Thailand,''tutur dia.

Menurut staf pengajar jurusan Kimia, FMIPA UGM ini, makanan halal suatu potensi yang sangat besar kalau mau dikembangkan. Karena itu dia mulai mengembangkan produk kelapa yang pohonnya tumbuh di hampir seluruh Indonesia. ''Kelapa harus menjadi komoditas riil yang bisa diunggulkan,''tutur Bambang yang pada tanggal 17 Mei mendatang akan menjadi pembicara dalam Seminar "Membangun Jaringan Bisnis Makanan Halal" di Bangkok tanggal 16-19 Mei 2005.

Seminar tersebut diselenggarakan dalam rangka ''Thailand International Halal Food Exahibition (Halfex) 2005 yang diselenggarakan oleh REPINDO Training Center bekerja sama dengan Center for Regional Business Networking Malaysia dan Sun Pacific Travel (Thailand).

Penulis : nri

Leave a comment

Pembiayaan Produk Halal Supaya Ditingkatkan

Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mendorong industri perbankan syariah agar meningkatkan pembiayaan bagi industri produk makanan dan minuman halal. Berkembangnya industri makanan halal sangat penting bagi penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim.
Saat ini, pembiayaan perbankan syariah bagi sektor tersebut diperkirakan kurang dari satu persen. ''Saya kira saat ini tidak ada satu persen pembiayaan syariah untuk makanan halal. Karena itu, perbankan syariah perlu didorong untuk meningkatkan pembiayaan bagi industri makanan halal,'' kata Sekjen MES, Syakir Sula, Selasa, (29/5).

Syakir menyebutkan, perbankan syariah merupakan industri yang dibangun berdasarkan prinsip syariah. Hal serupa juga terjadi pada industri produk halal. Karena itu, perbankan syariah sudah seharusnya mendukung perkembangan industri produk halal. Terlebih, sekitar 80 persen penduduk di Indonesia merupakan Muslim. ''Selain itu, makanan dan minuman halal dapat dikonsumsi yang non Muslim yang 20 persen itu. Jadi, perkembangan industri halal merupakan kebutuhan,'' katanya.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI), Muhammad Nadratuzzaman Hosen. Menurut dia, perlu adanya sinergi antara industri perbankan syariah dan industri produk halal. ''Kalau bank syariah konsisten dengan usaha-usaha yang halal maka sudah seharusnya mendorong perkembangan industri makanan dan minuman halal,'' katanya.

Hingga akhir Januari lalu, menurut Nadratuzzaman, terdapat sekitar 874 perusahaan di Indonesia yang menghasilkan produk halal. Dari ratusan perusahaan tersebut, terdapat sekitar 16.040 produk yang telah mendapatkan sertifikat halal dari LLPOM MUI. Jumlah tersebut termasuk sertifikat yang diterbitkan di 20 LPPOM MUI daerah.

Nadratuzaaman menyebutkan, industri produk halal merupakan sektor industri yang layak dibiayai (feasible). Sebabnya, industri tersebut merupakan jenis industri yang dikonsumsi masyarakat banyak. Termasuk industri produk halal bersumber perusahaan dan usaha kecil menengah (UKM). ''Saya kira makananan dan minuman halal cukup feasible untuk dibiayai bank syariah. Misalnya, indofood. Ini juga berlaku bagi UKM makanan halal,'' katanya.

Untuk mendukung pembiayaan bagi UKM produk halal, Nadratuzzaman mendorong agar perbankan syariah melakukan program kerja sama atau linkage program dengan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan baitulmal wattamwil (BMT). Dengan demikian, industri UKM halal dapat berkembang lebih pesat. ''Jadi, bank syariah bisa saja dengan menggunakan BPRS atau BMT untuk mendorong UKM makanan dan minuman halal,'' katanya.

Pembiayaan yang menguntungkan Menurut Kepala Divisi Syariah Bank Jabar Suryaman, perbankan syariah memang seharusnya mendukung perkembangan industri makanan dan minuman halal. Karena itu, ia mendorong perbankan syariah untuk meningkatkan porsi pembiayaan bagi produk halal tersebut. ''Bank syariah memang seharusnya mendukung pengembangan produk halal,'' katanya.

Suryaman mengakui penyaluran pembiayaan perbankan syariah bagi sektor produk halal masih kecil dibandingkan sektor-sektor lainnya. Padahal, industri produk halal memiliki prospek pengembangan bisnis perbankan syariah cukup menguntungkan.

Saat ini, menurut Suryaman, Bank Jabar Syariah memiliki sekitar 500 nasabah dari total seribu nasabah. Pembiayaan produk halal tersebut menggunakan akad mudarabah (bagi hasil) dan murabahah (jual beli). Sedangkan, margin keduanya berada pada level 14 hingga 14,5 persen. ''Mengenai nilai pembiayaannnya memang tidak besar hanya 2 persen karena memang nasabah pembiayaan produk halal nilanya kecil tapi banyak,'' katanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya sebagai pembicara kunci dalam Forum Ekonomi Islam Sedunia (WIEF) di Kuala Lumpur menyebutkan, perkembangan perdagangan dan industri produk halal dunia yang pesat, harus dimanfaatkan sepenuhnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara-negara Islam. Hubungan perdagangan dan investasi sesama negara Islam harus diperkuat.

Negara-negara Islam, akan menyesal bila tak mampu memanfaatkan peluang pasar halal. Ia memaparkan, jumlah penduduk Muslim dunia yang saat ini mencapai 1,6 miliar orang, merupakan pasar tersendiri bagi produk halal. Umat non-Islam pun banyak yang mengonsumsi produk tersebut. Sementara, nilai transaksi pasar halal dunia setahunnya mencapai 600 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 20 hingga 30 persen.

penulis : aru

referensi : Republika

http://www.mui.or.id


Leave a comment